IMPIAN DAN BATASAN

 

BAB 1

Kipas Angin Pemda, Motor Listrik, dan Harta Karun Mahasiswa Kere

Namaku Ayie.

Secara resmi, aku adalah seorang abdi negara. Kedengarannya gagah. Seolah-olah aku ini penjaga stabilitas republik atau pengatur roda pemerintahan yang sangat penting.

Padahal kenyataannya, aku hanyalah pegawai biasa di salah satu kantor pemerintah daerah di kota Cirebon. Pekerjaanku lebih sering ditemani suara kipas angin tua yang berderit daripada suara keputusan besar negara.

Kipas angin itu sudah seperti rekan kerja ketigaku.

Kadang dia menghadap ke arahku, kadang ke arah tembok, kadang tiba-tiba berhenti sebentar seperti sedang berpikir tentang makna kehidupan.

Hari ini pun begitu.

"Ngiiiiik… ngiiiik…"

Suara kipas angin itu terdengar seperti sedang mengeluh.

Aku menatapnya sebentar lalu kembali mengetik laporan di komputer.

Kalau boleh jujur, hidupku sudah masuk fase autopilot.

Bangun pagi.
Berangkat kerja.
Ngopi di kantor.
Pulang sore.
Menjadi sopir ojek keluarga.

Lalu tidur.

Begitu saja berulang setiap hari seperti episode sinetron yang diputar ulang.


Kehidupan keluargaku sebenarnya sederhana, tapi sangat damai.

Istriku, Devi, adalah wanita hebat yang usianya sudah masuk kepala empat. Dia bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu universitas di kota ini.

Karena lokasi kantor kami searah, aku merangkap jabatan tambahan yang sangat mulia.

Sopir ojek pribadi istri.

Setiap pagi aku menjemputnya, dan setiap sore aku menjemputnya lagi.

Tanpa tarif.

Tanpa tip.

Tanpa bonus tahunan.

Tapi aku tetap menjalankan tugas itu dengan penuh tanggung jawab.

Karena kalau aku telat sedikit saja, Devi biasanya langsung berkata dengan nada yang sangat diplomatis:

"Ayah kalau jadi ojek online pasti ratingnya dua bintang."


Kami punya dua anak.

Yang pertama, Hamdi.

Usianya 12 tahun dan sebentar lagi masuk SMP. Hobinya hanya satu.

Main Roblox.

Kalau listrik padam lima menit saja, ekspresi wajahnya sudah seperti investor saham yang baru kehilangan miliaran rupiah.

Adiknya, Mina, sebenarnya masih kelas tiga SD.

Harusnya main boneka.

Harusnya main masak-masakan.

Harusnya menggambar bunga.

Tapi entah bagaimana caranya, Mina malah ikut terinfeksi virus kakaknya.

Sekarang dia juga main Roblox.

Kadang aku merasa rumah kami bukan rumah keluarga.

Tapi warnet mini.


Untungnya mereka sekolah full day sampai jam empat sore.

Jadi di siang hari rumah kami tidak terlalu berisik.

Kami juga dibantu oleh Mbak Yuni, kakak iparku, yang setiap hari datang untuk bersih-bersih dan memasak.

Dia datang pagi.

Pulang sore.

Dan sering menjadi saksi bisu kekacauan kecil yang terjadi di rumah kami.


Secara penghasilan sebenarnya aku dan Devi tidak bisa dibilang miskin.

Dua orang bekerja.

Gaji lumayan.

Hidup cukup.

Tapi ada satu mimpi yang sampai sekarang masih menjadi barang mewah dalam hidup kami.

Mobil keluarga.

Setiap kali melihat keluarga lain naik mobil dengan santai, aku selalu berpikir:

"Enak juga ya."

Tapi mimpi itu masih harus menunggu.

Karena kendaraan tempur keluarga kami hanyalah sebuah motor listrik bongsor.

Kalau kami pergi jalan-jalan berempat, formasinya biasanya seperti ini:

Aku di depan.

Mina nyempil di tengah.

Devi di belakang.

Hamdi paling belakang dengan kaki yang sudah mulai kepanjangan.

Kalau dilihat dari jauh, kami terlihat seperti atraksi sirkus keliling.


Kenapa kami hidup seperti ini?

Jawabannya sederhana.

Karena aku pernah melakukan kesalahan finansial terbesar dalam hidupku.

Beberapa tahun setelah menikah, aku pernah terobsesi ingin cepat membuat istriku bahagia.

Aku ingin punya mobil.

Aku ingin punya rumah lebih besar.

Aku ingin hidup lebih nyaman.

Lalu suatu hari, datanglah seseorang dengan senyum sangat ramah dan kalimat yang sangat berbahaya.

"Mas Ayie, ini investasi masa depan. Return-nya bisa berkali-kali lipat."

Aku percaya.

Tabungan habis.

Bahkan aku sampai meminjam uang ratusan juta dari bank.

Dan seperti yang bisa ditebak oleh siapa saja yang pernah membaca berita ekonomi…

Investasi itu ternyata bodong.

Pelakunya kabur.

Uangnya hilang.

Yang tersisa hanya cicilan bank yang menghantui hidupku bertahun-tahun.

Sejak saat itu, aku memiliki satu prinsip hidup yang sangat sederhana.

Aku benci kata bisnis.

Aku benci kata investasi.

Kalau ada motivator yang berkata tentang "passive income", rasanya aku ingin melempar sepatu dinas ke arah panggung.

Bisnis dan Ayie adalah dua kutub magnet yang tidak akan pernah saling mendekat.


Aku sedang mengetik laporan dengan wajah datar ketika tiba-tiba suara keras memecah ruangan.

"Gila!"

Aku menoleh.

Teman sekantorku, Yanto, sedang menatap layar ponselnya dengan mata melotot.

Yanto ini orang yang unik.

Di kantor dia staf biasa seperti aku.

Tapi di kampung asalnya, dia adalah seorang kyai yang memiliki pondok pesantren kecil.

Jadi kadang-kadang dia bisa membicarakan laporan keuangan sambil mengutip hadis.

Kombinasi yang tidak banyak dimiliki orang.

"Gila beneran ini dunia, Yie!" kata Yanto sambil menepuk meja.

Aku hanya melirik malas.

"Kenapa, To? Ada promo ayam geprek?"

"Bukan!"

Dia mengangkat ponselnya dengan wajah serius.

"Bitcoin."

Aku mengangkat alis.

"Harganya tembus satu miliar rupiah per koin!"

Tanganku berhenti mengetik.

Satu miliar?

Yanto masih terus bicara dengan semangat.

"Satu koin, Yie! Seribu juta! Bayangin kalau kita punya seratus koin aja, rasanya bisa beli satu kecamatan!"

Aku tidak lagi mendengar sisa kalimatnya.

Otakku tiba-tiba membuka memori lama yang hampir terlupakan.

Belasan tahun lalu.

Saat aku masih mahasiswa kere.

Saat uang jajan sering habis sebelum akhir bulan.

Saat aku suka mencoba hal-hal aneh di internet.

Termasuk membeli koin digital yang waktu itu tidak ada yang peduli.

Namanya…

Bitcoin.

Aku ingat waktu itu harganya sangat murah.

Aku membeli ratusan koin hanya dengan uang beberapa ratus ribu.

Beberapa bulan kemudian harganya jatuh.

Aku kesal.

Aku menyimpan passwordnya di draft email.

Lalu melupakannya.

Benar-benar melupakannya.

Sampai hari ini.


"To…" kataku pelan.

"Iya?"

"Satu miliar… per koin?"

"Iya!"

Yanto mengangguk semangat.

"Satu miliar!"

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Aku membuka laci meja dengan perlahan.

Mengambil ponsel.

Berusaha terlihat santai.

Padahal tanganku mulai sedikit gemetar.

Aku membuka email lama.

Mencari folder draft.

Dan…

di sana.

Masih ada.

Deretan dua belas kata sandi yang dulu kusimpan.

Aku menelan ludah.

Lalu mengunduh aplikasi dompet digital.

Memasukkan seed phrase itu.

Dan menekan tombol Enter.

Layar ponsel berputar.

Beberapa detik terasa seperti beberapa tahun.

Lalu angka itu muncul.

Terang.

Jelas.

Tidak mungkin salah.

Balance:

254.5 BTC

Estimated Value:

Rp 254.500.000.000

Dua ratus lima puluh empat miliar rupiah.

Aku menutup mulutku.

Menahan teriakan yang hampir keluar.

Aku, Ayie.

PNS biasa yang ke mana-mana naik motor listrik.

Yang masih punya cicilan bank.

Yang setiap hari ditemani kipas angin kantor.

Mendadak…

menjadi miliarder.

Dan aku belum tahu…

bahwa di detik itu,

hidupku baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih aneh daripada yang bisa kubayangkan.

Komentar